Ep. Sebelumnya, silahkan baca Let Me Die 1 & 2
————-
“where’s your room?” tanya Ri Yoo yang berjalan mendahului Peter.
“Di sana, yang pintu biru ada gantungan nama…” Ri Yoo pun langsung membuka pintu kamar yang ditunjukkan Peter. Ia masukkan sedikit kepalanya untuk melihat keadaan di dalamnya.
“Nicee…. rapi juga. Padahal kamu cowok ya… “ Ri Yoo tersenyum. Sedangkan Peter langsung menjatuhkan diri di sofa dan meletakkan barang bawaannya yang berupa koper-koper milik Ri Yoo di sampingnya.
“Aku tidur di kamar, kau tidur di luar!” Ucap Ri Yoo sembari melenggang masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu kamarnya.
“Ah, aku mau tidur, jangan ganggu!” kepalanya menyembul sedikit lalu masuk lagi.
—Peter’s PoV—
What the heck…. Ngeselin banget wanita aneh itu. Dan kenapa pula aku turutin. Kenal juga enggak. Tapi kenapa…. I’m crazyyyyy… >.<
–Flashback—
“Help me!” Ri Yoo berbisik padaku saat aku memeluknya dihadapan kakaknya.
“Wha..”
“Sussh..tidak usah bereaksi! Just help me!” Ia menahanku dengan kuat.
“Oppaa….. bogoshipoooo…. Let’s go oppa… aku gak mau dekat-dekat dengan orang-orang sarap ini!” Ri Yoo turun dari ranjangnya dan menarik tanganku.
“Waiiitt…. what are you doing Lee Ri Yoo?!!!!” huwaaa… kakaknya mulai murkaaaa…
“Lepaskaann!!! Aku tidak kenal dengan Anda, dan juga Anda!” Ri Yoo juga menunjuk ke arah bapak2 yang berdiri tidak jauh dari Mikey.
“Dia inilah kekasih saya! Dia satu-satunya di ruangan ini yang saya kenal! Jadi Anda berdua jangan macam-macam!!! Come on chagiya… oh.. wait, aku ganti baju dulu!” Ri Yoo menyusuri ruangan untuk mencari pakaiannya. Ia menemukannya di dalam lemari dan segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
“Hey youuuu!!!” yak.. yak.. mulai lah… Si gigantic Mikey menarik kerah bajuku.
“Kau bilang tidak kenal adikku! Tetapi kenapa sekarang dia mengakuimu sebagai pacarnya???????” tanyanya setengah berbisik, tidak ingin suara murkanya terdengar oleh Ri Yoo.
“Aku memang tidak kenal! Aku juga tidak tahu kenapa dia menganggapku sebagai pacarnya.” Aku mendengak untuk menatap matanya.
“Lalu kenapa kau tidak menolak? Kenapa kau tidak membantahnya????” Tangannya sudah terkepal siap untuk menonjokku.
Cekleekk… Ri Yoo keluar dari kamar mandi.
“APA YANG KAU LAKUKANNNN?!!!” Ri Yoo mendorong Mikey. Ajaibnya, badan besarnya itu seperti tidak memiliki daya untuk bertahan.
“YAAH… LEE RI YOO!” teriak Mikey.
“WAAEEEE?!” aku terkejut karena mereka saling berteriak dan aku berada di tengah mereka. No doubt lah kalo mereka bersaudara.
“Kaja, chagiya!” Ri Yoo menarikku keluar ruangan. Dan aku yang masih terkejut hanya bisa menuruti langkah Ri Yoo dan melihat Mikey komat kamit sambil membelalakkan matanya ke arahku. Aku hanya bisa mengangkat bahuku.
Sampai di luar rumah sakit Ri Yoo melepaskan tanganku dan ia berjalan di depanku. Aku hanya bisa memperhatikannya dari belakang sambil berusaha mencerna semua yang terjadi tadi.
“Ayo cepat!” ujarnya galak sambil membuka pintu taksi. Aku pun spontan berlari kecil menuju taksi itu. Waiiiittt…..
“Chamkan…. kita mau kemana?” tanyaku di depan pintu taksi.
“Sudah, naik saja!” dia mendorongku masuk. Di dalam taksi aku terus memperhatikannya. Aku yakin ada yang salah dengannya.
“Kau yakin sudah tidak apa-apa?” tanyaku hati-hati. Bagaimana tidak hati-hati, mereka sekeluarga sedikit sakit jiwa. Bukannya menjawab Ri Yoo malah melengos dan menatap keluar jendela taksi.
“Apa kau benar-benar tidak ingat kakakmu?” tanyaku lagi. Dan dia tetap tidak menjawab. Rrrgggghhh… Kalo aja dia bukan perempuan yang notabene baru keluar dari rumah sakit, mungkin aku sudah menendangnya keluar dari taksi ini.
“Yaaah… Aku ini pacarmu, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?!” ucapan apa ini? Pacar apaaaaa…. Ya Tuhan, aku sudah gila.
“Cih..” mwooo…. dia mencibirku…
“YAAAHH! DEDAB ANHAE?!” aku kehilangan kesabaran.
“Keumanheyo! Ip takchuseyo!” ucapnya dingin sambil terus melihat ke luar jendela. Gaahhhh….. Dosa apa yg telah kuperbuat hingga terjebak dalam situasi aneh bersama wanita menyebalkan ini.
“Ajoshi… stop right here!” Dia memberhentikan taksinya. Aku pun mengikutinya turun dari taksi.
“Mwoheyo? Bayar taksinya!” ia menyuruhku membayar taksinya. Ya Tuhaaannnnn….. Tapi…
“Olmayeyo ajoshi?” hhhhhh….. aku kena pelet apa ini?! Kenapa aku selalu menuruti perkataannya. Aku berjalan tertunduk. Yak.. aku sedang mengikutinya berjalan masuk ke pertokoan.
“Chamkan! Kau tidak amnesia ya? Kenapa kau bisa belanja dengan credit card? Kau sedang mempermainkanku?” bukannya menjawab, dia hanya menatapku dan tersenyum licik. Dia membeli semuanya, baju, peralatan mandi, peralatan tidur, peralatan makan, bahkan koper baru. Aku yakin dia tidak amnesia.
“Come on, lets go to ur house! I’m gonna live with you now.” mwooooooooooooooooooooo…..
–End of Flashback—
I’m crazee… chincha micheoo… aaarrggghhhhhh…. aku hanya bisa blingsatan sendiri di ruang tamu. Dia bilang tidak ingin diganggu, dan aku memang tidak ingin mengganggunya. Tapi aku kesaaallll…..
Lebih baik keluar mencari udara segar.
Warung burito langgananku, here I comeeee…..
Cara terbaik menghilangkan stres adalah, makan burito n taco sebanyak-banyaknya… XDDDD
“Paul, odiya? I’m here! Ikutan gak? Gue traktir!”
“Hyung, lagi di bioskop nih. Mianhe… biasaa… lagi mau nonton sama piton… heheheee….” jawab paul di ujung telpon.
“aiisshhh… pacaran mulu lu ah! Ok.. keuno! Cih.. si paul… pacaran mulu.. bikin ngiri aje!” aku terus mengunyah tacos n buritos yang ada di hadapanku. Tiba-tiba aku melihat ada sesosok wanita yang sepertinya kukenal melintas di luar kedai.
“Lee Ri Yoo….. mau kemana dia?” aku langsung berlari keluar kedai. Tapi..
“Hoi… bayar duluuuuu!!!!” Si penjaga kedai mencegahku keluar.
“Nanti aku kembali lagi!!!” tapi si penjaga itu menggeleng mantap.
“Nopeee… bayar dulu, baru kau boleh keluar dari kedaiku!!!” ucapnya sambil terus menggenggam tanganku. Ya, dengan terpaksa aku merogoh kantong. Mengeluarkan dompet dan menjumput beberapa lembar uang.
“Dwessoyo?!” ucapku kesal sambil membanting uang ditangannya. Aku pun langsung pergi begitu tangan penjaga itu sibuk menghitung uangku.
“Aiiisshhh… kemana pula dia?! Cepat sekali jalannyaaa… *pake logat naga bonar XDDD* “ aku sedikit berlari menyusuri jalan yang dipenuhi orang yang lalu lalang.
“Aah, itu..” dia tersenyum. Baru kali ini aku lihat dia tersenyum seperti itu. Tidak terlihat seperti orang stres.
“Oppa… “ dia memanggil sesosok laki-laki yg ditemuinya di kedai ice cream, dan memeluknya. But, heeeyy… laki-laki itu tidak sendiri.
“Hehheee….” entah kenapa aku tersenyum senang melihat laki-laki itu BERSAMA TEMAN WANITANYA… hahahahaaa…. Ooppsss..
“WHAT AM I THINKING?!” protesku pada diri sendiri.
–End of Peter’s PoV–
“Chani-yah mian…. butuh bantuan nih!” Ri Yoo bertemu dengan Chani dan Chana di kedai kopi langganan mereka.
“Buatin paspor dong! Gue pengen kabur!” pinta Ri Yoo. Chani yang bekerja di imigrasi memang sering membantu beberapa temannya dalam membuat paspor. Yaaa bisa dibilang calo. Tapi calo untuk teman-teman sendiri saja.
“Tto?! Gak bosen apa lo kabur mulu? Mending kalo kabur gak ketangkep. Ini mah selalu ketangkep. Lupa kali lu yak, tu kakak lu intel cyn!” Ri Yoo mengernyit.
“Hoi Chana, lo sering bawa Chani ke salon ya? Ngapa ngomongnya jadi begini?!” Chana hanya tertawa kecil.
“Brengsek lu! Minta bantuan tapi songong!” Chani sedikit tersinggung.
“Mianheeeeee! Duilaaahh… gitu aje ngambek… Bikinin ya say!” Ri Yoo menirukan nada bicara Chani yang gemulai seperti sebelumnya.
“Berani bayar berape luuu?!” tantang Chani.
“Harga temen aja siiihhh.. peliiittt!” goda Ri Yoo.
“Ri Yoo-ssi!” Ri Yoo tersentak.
— Lee Ri Yoo’s PoV —
Apa yang dilakukannya di sini. Bagaimana dia bisa menemukanku. Oh God, please help me!
“Nugunde?” tanya Chani. Aku tidak ingin memperkenalkannya, menyebut namanya saja aku tidak sudi.
“Annyong haseyo, je ireumeun..”
“Annyong, Chani-yah.. Bye Chana!” Aku langsung berdiri dan meninggalkan Chani dan Chana. Aku terus berharap ada bantuan Tuhan yang bisa menjauhkan aku dari laki-laki itu.
“Keurom..” kudengar ia juga ikut pamit, dan sepertinya sedang berusaha mengejarku.
Oh my God.. please help me… I really need Your help right now…
Dan sepertinya Tuhan memang selalu mengabulkan doa umatnya yang sedang teraniaya.
“Chagiyaaaaaaaaa….” Aku menghambur ke pelukan Peter. Seperti biasa dia masih terkejut ketika aku memeluknya tiba-tiba.
“Aaahh…. so dia yang dibilang Mikey hyung… Annyong hase..” aku menepis tangannya yang dijulurkan saat ingin berkenalan dengan Peter.
“Gak perlu! C’mon chagiya, kita pulang!”
“So… semuanya bohong kan? Amnesia, itu bohong!” ucapnya sedikit kencang. Sigh~ Kebohongan ini begitu cepat terbongkar. Aku memang stupid liar.
“Keure… Dda ppongiya… keunde… it’s not your business!” ucapku sambil terus menggandeng Peter yang sepertinya masih berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi.
“How come it’s not my business? I’m your…”
“Peter is my boyfriend! We’re gonna married soon, and…. We’re gonna have a baby!” mata Peter terbelalak melotot ke arahku. Aku menatapnya dengan tatapan memelas, meminta dukungannya.
“Mwo? Hahahhahaa… are you sure its his baby and not…”
“STOP IT! STOP BOTHER ME! GO TO HELL YOU MORON!” teriakku emosi. Mataku berkaca-kaca menahan emosiku. Peter melepaskan peganganku dan berjalan ke arahnya.
“Look… hmmm… what did you say your name?” tanya Peter.
“Aaah.. aku belum memperkenalkan diri. I’m Joe!” kulihat Joe tersenyum. Senyum palsu.
“Oh.. Joe.. Look! Sepertinya Ri Yoo gak suka dengan kehadiranmu! And as you heard, she’s my girlfriend! Ri Yoo ga nae yojayeyo! So keumanhaseyo, eung!” Peter memintanya berhenti menggangguku.
Peter berbalik dan menarik tanganku, dan membawaku pergi dari tempat itu. Aku tidak akan berbalik hanya untuk melihat orang itu. Tiba-tiba kurasakan air mataku mengalir. Tak bisa kuhapus karena kedua tanganku menggenggam erat tangan Peter. Aku gemetar.
Peter membawaku ke sebuah taman. Bisa kudengar suara anak-anak yang sedang bermain di sekitar kami. Aku terus menunduk, tidak sanggup untuk mengangkat kepalaku.
“Could you tell me about what just happened?!” pinta Peter. Tapi aku tidak bisa menjawabnya. Air mata ini semakin tidak terbendung. Dadaku sesak dan badanku terasa panas.
“DEDAB CHUMHAEEEEE!!” Peter berteriak membuatku semakin emosi, dan berteriak ke arahnya.
“IP TAKJYOOOO!!!!!!”
— End of Ri Yoo’s PoV —
Orang-orang disekitar mereka terkejut dengan teriakan mereka. Peter yang berdiri sambil berkacak pinggang terus mengernyitkan dahinya. Sedangkan Ri Yoo terus saja menunduk dan seluruh badannya bergetar, menangis….
— Peter’s PoV —
Wanita ini benar-benar nyusahin. Kenapa juga aku harus membantunya. Bisa saja tadi aku pura-pura tidak mengenalnya. Kenapa tadi aku terpancing emosi karena kehadiran si Joe itu. Kenapa juga tadi aku tidak membantah mengenai boyfriend dan baby itu. Kenapa juga aku…. aaaarrrggghhhh…
“Ni mamdeuro!” aku berbalik dan meninggalkannya sendirian di taman itu.
Cukup sudah aku membantunya. Cukup sudah aku dibentak-bentak. Cukup sudah aku memperhatikannya. CUKUP SUDAH!
Aku berlari menuju halte bus terdekat. Aku benar-benar ingin menjauh dari wanita itu. Sepertinya dia banyak memberiku masalah. Tapi…
“Help me!” aku terus mendengar suaranya saat dia membisikkan kata itu padaku.
“Help me!” gaaaaaaaaaahhhhhh….. It’s so irritating!
Aku kembali berlari. Berlari berbalik arah, kembali ke tempat aku meninggalkan wanita itu. Namun dia tidak ada di sana.
“Ri Yoo…. Lee Ri Yoo… Ri Yoo-ssi…” aku memanggil namanya berharap ia menyahut.
Kupencet nomer telponnya. Kudengar suara telpon berbunyi. Aku terus mencari ke arah sumber suara. Telepon genggamnya ada di dalam tong sampah yang ada di pinggir taman itu.
“Oh my God! LEE RI YOO!” Jangan-jangan…. Jangan sampai dia mencoba bunuh diri lagi! Lee Ri Yoo.. Jebal! SARAJYO JEBAALLLL!
— End of Peter’s PoV —
Tags: Chance, fan fiction, One Way, Peter, youngsky
D'Perfecto said ....